Malpraktek di Indonesia

Kasus Malpraktek. Sejak 2003 hingga 2006, LBH Kesehatan telah menerima 373 kasus kesehatan dari seluruh Indonesia, 90 kasus diantaranya malpraktek. Berdasarkan data yang dimiliki LBH Kesehatan, sampai dengan empat tahun terakhir, jumlah kasus yang LBH Kesehatan tangani rata-rata meningkat sekitar 80 persen. Ini baru kasus yang terdokumentasi. Bagaimana dengan banyaknya kasus malpraktek yang tidak terdokumentasi. Siapa sangka Anda dan keluarga Anda adalah salah satu korbannya!?!

Kasus AIDS. Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia dalam waktu 10 tahun terakhir berdasarkan laporan Ditjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan hingga bulan Juni 2008 mencapai 12.686 jiwa. Kasus AIDS terbanyak dari daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Kepulauan Riau. Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Denpasar yang tercatat hingga akhir Juli mencapai 1.085 orang dari 2.208 kasus di Bali.

Nah, jika tadi kita sudah melihat contoh kasus-kasus yang terjadi Amerika, mari sekarang kita melihat yang terjadi di Indonesia yang saya ambil dari beberapa artikel di Internet:

.

Ramai-Ramai Menggugat Dokter

Pengaduan masyarakat atas dugaan malpraktek semakin marak. Perlu lembaga audit medis dan standar profesi dokter.

ANA Kusmanto tak bisa menyembunyikan kepedihannya. Setiap kali memandang Dherens, bayinya yang kini berumur empat bulan, hati perempuan itu tersayat. Kaki Dherens tak tumbuh normal. Kaki kanan lebih pendek ketimbang yang kiri, dari paha kaki kanan itu tumbuh tulang baru yang mendesak tulang kulit paha. Tulang paha kanan itu kemudian membesar, mengikuti bentuk tulang baru.

Bagi Ana, ini bukan pertumbuhan alamiah. Ia yakin anak keduanya itu korban malpraktek dokter di Rumah Sakit Medistra ketika ia menjalani persalinan lewat bedah caesar di sana, 9 Juli silam. Menurut Ana, beberapa saat setelah dilahirkan, Dherens terus menangis. Kaki Dherens, kata Ana, ketika itu berwarna biru lebam dan gerakannya tak normal. Ketika dilakukan rontgen, diketahui tulang paha kanan bayinya patah.

Tetapi dokter yang menangani persalinannya meminta Ana tenang. “Kasus patah tulang seperti ini biasa, dua atau tiga bulan lagi akan sembuh,” kata sang dokter seperti ditirukan Ana. Tapi, ya, itu: kaki Dherens tak kunjung normal. Kusmanto dan Ana melayangkan somasi ke rumah sakit terkenal di Ibu Kota itu. Mereka meminta Medistra ikut bertanggung jawab atas keadaan yang dialami bayinya.

Karena jawaban Medistra tak memuaskan, Ana membawa kasus ini ke polisi. Ia menuduh Medistra melakukan kelalaian sehingga bayinya cacat. Pasangan ini juga berencana menuntut ganti rugi Rp 17 miliar. Tuduhan dugaan malpraktek yang dilakukan dokter di rumah sakit ini juga datang dari keluarga Sukma Ayu. Mereka menduga ada kejanggalan yang dilakukan tim dokter saat menangani almarhumah.

Sukma dirawat di Rumah Sakit Medistra mulai 9 April lalu, setelah lengannya dioperasi karena mengalami kecelakaan. Sukma kemudian koma selama lima bulan, sebelum akhirnya wafat pada akhir September lalu. Keluarga Sukma, lewat pengacara Hotman Paris Hutapea, mengajukan somasi. Mereka menduga artis ini meninggal karena adanya penanganan tak benar dari dokter.

Persidangan terhadap dugaan malpraktek dua pekan lalu juga muncul di Pengadilan Jakarta Pusat. Indra Syafri Yacub menggugat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RS Pelni Petamburan, dan RS Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor dengan tuduhan telah melakukan malpraktek terhadap istrinya, Adya Vitry Harisusanti.

Menurut Indra, pada 10 November 2002, Adya memeriksakan kesehatannya ke RS PMI Bogor. Karena informasi medis di rumah sakit itu tak memuaskan, Indra membawa istrinya ke RS Pelni, Jakarta. Dari tempat itu, setelah meminta rujukan, pada 17 Desember ia memindahkan istrinya ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di RSCM, kata Indra, terjadi kesalahan pemasangan alat CVP (central vena pressure).

Pemasangan alat yang menggunakan jarum suntik itu, menurut Indra, tidak pada tempatnya. “Darah yang muncrat adalah darah segar yang berasal dari arteri, dan bukan masuk ke vena,” ujarnya. Beberapa saat kemudian, Adya tewas. Namun, gugatan Indra ditolak. Menurut majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, gugatan Indra terlalu prematur karena tidak ada autopsi terhadap pasien sehingga tak diketahui penyebab kematiannya.

Indra tak menyerah. Lewat Pengacara Erna Ratnaningsih, yang juga Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, ia melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Erna yakin terjadi malpraktek terhadap Adya. Apalagi, menurut dia, dokter yang memasang CVP, Dokter Fahrurozi, adalah dokter “residen”?dokter yang masih ikut pendidikan spesialisasi anestesi di RSCM. “Dokter itu melanggar Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) karena kelalaiannya menyebabkan Adya meninggal,” kata Erna. Erna juga mengadukan atasan Fahrurozi karena tidak melakukan pengawasan terhadap bawahannya.

Gugatan kasus malpraktek kini marak di mana-mana. LBH Kesehatan, misalnya, saat ini menangani tak kurang dari 180 kasus berkaitan dengan dugaan malpraktek. “Beberapa kasus sudah dilaporkan ke polisi,” kata Iskandar Sitorus, Ketua LBH Kesehatan. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditangani LBH Jakarta. Sepanjang 2001-2004, LBH Jakarta menangani 21 kasus. Menurut Erna Ratnaningsih, tiga kasus di antaranya sudah ke pengadilan.

Banyaknya laporan pengaduan kasus dugaan malpraktek tentu saja mengkhawatirkan para dokter. Tentu saja tak semua dokter setuju dengan istilah malpraktek ini. Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Mohamad, misalnya, menyatakan tidak semua kesalahan medis yang dilakukan dokter akan berujung sebagai kasus dugaan malpraktek. Malpraktek, kata Kartono, adalah istilah hukum untuk kasus kesalahan medis yang diadukan ke pengadilan.

Erna tak sependapat dengan Kartono. Menurut dia, seorang dokter diduga malpraktek jika salah mengambil tindakan medis. Tindakan pembiaran pun, kata Erna, dikategorikan malpraktek. “Dokter yang seharusnya melakukan sesuatu tapi tidak melakukannya, itu pun termasuk malpraktek. Atau sebaliknya, melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan,” tuturnya.

Erna sendiri menyatakan pihaknya tak pernah langsung menuduh seorang dokter melakukan malpraktek. Menurut dia, LBH lebih dulu akan meminta data rekaman medis untuk mengetahui apakah tindakan dokter sudah sesuai dengan standar atau belum. “Kami berkonsultasi dan meminta second opinion dari dokter lain berdasarkan rekaman medis itu,” katanya.

Ganjalannya: tak mudah mendapatkan rekaman medis. “Pihak rumah sakit enggan memberikan data dengan alasan milik rumah sakit,” kata Erna. Meminta second opinion dari dokter lain juga tak mudah. Karena itu, menurut Erna, perlu ada lembaga audit medis yang independen untuk memberikan pendapat mengenai rekaman medis itu.

Ketua Umum IDI, Farid Anfasa Moeloek, memandang masalah ini dari kurangnya komunikasi pasien dengan dokter. Farid mengakui, tindakan medis yang dilakukan dokter kadang tak sesuai dengan harapan pasien. Menurut dia, tindakan medis yang dilakukan dokter selalu mengandung risiko, dan tidak menjanjikan kesembuhan. “Ada tiga kemungkinan: kesembuhan, cacat, atau meninggal,” kata Farid kepada Edy Can dariTempo.

Tindakan medis yang dilakukan dokter, kata Farid, sudah ada prosedurnya. Jika pun ada dugaan malpraktek, majelis kode etik akan menanganinya, meminta klarifikasi tindakan yang dilakukan dokter tersebut. Namun, pasien tidak bisa mengetahui tindakan dokter itu sudah sesuai atau tidak. “Hanya majelis kode etik yang mengetahuinya,” kata Farid. Klarifikasi tindakan medis seorang dokter bisa dilakukan karena adanya pengaduan masyarakat, atau inisiatif IDI.

Bagi Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), kasus malpraktek timbul karena selama ini dokter tidak punya standar profesi. Sejak enam tahun silam pihaknya telah menuntut perlunya standar itu bagi profesi kedokteran dan tenaga kesehatan. “Bukan standar terhadap 200 jenis penyakit yang dibuat IDI, melainkan standar yang harus dibuat sekitar 30 perhimpunan dokter, mulai dari dokter bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan sebagainya,” kata Marius.

Hubungan dokter dengan pasien pun menurut Marius adalah sederajat. “Karena itu, jika terjadi sesuatu, sah saja masyarakat mengatakan ini malpraktek. Sebab, aturan mainnya tidak ada,” katanya. Marius juga mengkritik dokter yang kerap mengelak dengan menyatakan tindakan medis yang diambilnya telah sesuai dengan SOP (standard operational procedure). Menurut dia, tak ada standar SOP di Indonesia karena, jika ada, masyarakat pasti mengetahuinya. “Kalau sekarang kan SOP-SOP-an. Rumah sakit yang satu berbeda SOP-nya dengan rumah sakit lain,” katanya.

Rancangan Undang-Undang Praktek Kedokteran, yang disahkan DPR September lalu, dinilai tidak memihak pada pasien. Marius melihat RUU Praktek Kedokteran hanya mengatur hulunya, dokternya, dan tidak melindungi pasien. “Padahal undang-undang itu seharusnya mencakup hulu, hilir, dan mudik,” katanya. Lantaran tak adanya standar profesi dan aturan hukum yang jelas inilah, menurut Marius, tidak bisa dibedakan antara malpraktek, kelalaian, dan kegagalan tindakan medis seorang dokter. “Dari sisi hukum, ini sulit, semua dianggap kecelakaan,” ujarnya.

Sumber: TempoInteraktif.Com, Sukma N. Loppies, 11 Oktober 2004 

.

100 Kasus Dugaan Mal Praktek Terbengkalai

Sedikitnya 100 kasus dugaan mal praktek tidak tertangani dengan baik oleh kepolisian. Bahkan hampir seluruh kasus gagal memenangkan gugatan pidananya.

“Kalau penanganan di perdata selalu menang, tapi kalau di pidana tidak sesuai yang diharapkan, karena tim penyidik hanya mendasarkan pada keterangan saksi ahli,” ujar Direktur LBH Kesehatan Sentot Sedayu Aji, saat mendampingi dua korban mal praktek di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (8/3/2008).

Saksi ahli, menurut Sentot, selalu berargumen para dokter telah melakukan tindakannya sesuai dengan SOP Kedokteran, sehingga kasus otomatis terhenti. “Mestinya tim penyidik meminta resume medis untuk dilakukan analisa, apa sudah masuk ke dalam pelanggaran kode etik kedokteran,” sesal Sentot.

Sementara itu, dua korban yang melaporkan dugaan mal praktek adalah keluarga Ibrahim Adenan, warga Jalan Kembang III/36 RT09 RW01, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat dan Martin, warga kompleks Setneg Blok A31 No 1 RT06 RW09, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Keluarga Adenan menuntut RS Bunda Menteng yang dituding melakukan kekeliruan yang mengakibatkan anak dalam kandungan istrinya meninggal dalam kandungan. Sedangkan Martin kehilangan anaknya setelah menjalani dua kali operasi di RS Satya Negara.

“Katanya kekurangan cairan, ternyata paskaoperasi muncul benjolan dan akhirnya meninggal, padahal banyak biaya yang dikeluarkan untuk operasi, diagnosanya juga tidak jelas,” terang Sentot.

Dalam dua kasus tersebut, Sentot menuntut kedua rumah sakit dengan UU Praktek Kedokteran No 29/ 2004 pasal 51 jo 79c, serta pasal 359 KUHP atas tindakan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Sumber: news.okezone.com, Yuni Herlina Sinambela, 8 Maret 2008 

.

Dokter ”Kejar Setoran” Memicu Malpraktek

Mata Murnawati berkaca-kaca menahan tangis. Walau sudah tiga tahun peristiwa itu berlalu, masih terlekat jelas bagaimana Oka, putrinya, kehilangan nyawa. Barangkali hati ibu setengah baya ini tak terlalu perih kalau kematian Oka normal-normal saja. Namun nyawa Oka melayang dalam usia begitu muda, 5,5 tahun, justru karena tindakan malpraktek dokter.

”Tiga orang dokter di sebuah rumah sakit anak terkemuka di Jakarta terlibat dalam malpraktek yang membuat anak saya meninggal. Padahal rumah sakit tersebut sudah menjadi langganan keluarga saya selama sepuluh tahun,” ungkap Murnawati kepada pers dalam acara peluncuran buku Sang Dokter di Jakarta baru-baru ini.

Oka yang demam disertai muntah-muntah selama satu malam tidak mendapat perawatan apa pun dari dokter di rumah sakit. Padahal Murnawati tidak kurang ”rewel” memohon agar dokter segera menangani putrinya.

”Dokter pertama hanya menuliskan resep tanpa menyentuh putri saya. Dokter kedua justru menegur saya yang tidak memberi minum, padahal anak saya selalu muntah tiap kali disuapi sesuatu. Dan dokter ketiga lagi-lagi cuma menjanjikan akan memberi resep, menyentuh anak saya pun tidak,” ujar perempuan ini dengan nada terisak. Baru setelah anaknya menghembuskan nafas terakhir, seluruh tim medis berdatangan.

Murnawati tidak diam saja terhadap peristiwa ini. Ia menghadap direktur rumah sakit dan mengadukan semuanya. Sang direktur berjanji akan menindak tegas dokter-dokternya. Tapi hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, ketiga dokter tersebut tetap bebas merdeka berpraktek di rumah sakit yang sama.

Ibu tiga anak ini tak patah semangat. Ia bahkan berani mengadu ke Menteri Kesehatan (Menkes) saat itu, Dr.FA. Moeloek. Namun sampai era Menkes saat ini, Ahmad Sujudi, kerja keras Murnawati belum mendapat titik cerah. Sekarang ibu ini tengah menunggu proses tuntutan terhadap ketiga dokter tersebut melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia tak tergoda dengan tawaran uang ganti rugi sebesar Rp10 juta dari rumah sakit. Tuntutan ganti rugi yang diajukannya Rp 1,5 miliar, tanpa bergeming sepeser pun.

Murnawati hanya salah satu dari warga masyarakat yang dirugikan oleh kesalahan ahli medis berprofesi dokter. Menurut Dr. Hendrawan Nadesul, dokter sekaligus kolomnis pemerhati masalah sosial, antara dokter dengan pasien ada satu jurang yang luar biasa dalam.

”Dari hari ke hari, dokter menjadi tambah pintar berkat makin banyaknya kasus dan pergaulan sesama dokter. Tapi di sisi lain pasien tak pernah bertambah pintar. Mereka adalah orang awam yang polos, lugu dan pasrah pada apa kata dokter,” papar Hendrawan yang banyak mengasuh rubrik konsultasi kesehatan di media massa ini.

Ibarat kata, kalau ada pertandingan antara tim dokter melawan tim pasien maka selamanya tim pasien tidak akan pernah bisa menang melawan. Kondisi memprihatinkan macam inilah yang kerap terjadi di Indonesia.

Memang tidak semua dokter berlaku sewenang-wenang terhadap pasien. Semua kembali pada tipe dokter macam apakah ia. Dr. Bahar Azwar, penulis buku Sang Dokter mengategorikan dokter di Indonesia ke dalam empat tipe.

”Pertama adalah dokter dengan jurus ”angin puyuh”, yakni terdapat di banyak klinik swasta. Rata-rata pasiennya 40-50 orang per hari. Ia buka praktik dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Dikurangi waktu untuk acara makan ringan, sembahyang, berarti ia memberi waktu enam menit per pasien,” papar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Siaga Raya, Jakarta ini pada kesempatan serupa.

Tipe kedua adalah dokter ”ban berjalan”. Bahar memberi contoh dokter kebidanan di sebuah rumah sakit swasta dengan pasien rata-rata 30 orang, sedangkan jam praktiknya hanya dua jam. Para pasien akan disuruh antri di beberapa tempat tidur sekaligus. Saat memeriksa tempat tidur pertama, pasien lain disuruh membuka baju, begitu seterusnya. Mirip dengan tipe ”angin puyuh”, dokter jenis ini harus cepat bertindak dan menekankan efisiensi.

Dokter ”memukul angin” adalah tipe ketiga. Di sini terjadi di mana sekali periksa, seorang dokter langsung memutuskan agar pasien dioperasi tanpa banyak perundingan dengan pasien atau keluarganya. Dan tipe terakhir adalah yang jarang ditemui di kota besar, yakni dokter ”amanah”. Biasanya dokter ini ada di desa-desa terpencil, di mana pasiennya tidak bisa membayar dengan uang nominal.

Sumber: sinarharapan.co.id, Merry Magdalena, 2002

 

 

Download materi penyembuhan secara alami setebal 72 halaman GRATISS

Download materi penyembuhan secara alami setebal 72 halaman GRATISS klik di sini

Untuk melihat materi bagaimana menyembuhkan batu dan gagal ginjal secara alami, silahkan Anda download materinya Klik di sini

Untuk melihat materi bagaimana menyembuhkan diabetes secara alami, silahkan Anda download materinya Klik di sini

Untuk melihat materi bagaimana menyembuhkan HIV/AIDS secara alami, silahkan Anda download materinya Klik di sini

Untuk melihat materi terapi kelapa untuk berbagai penyakit mulai dari flu, kolesterol, hipertensi hinggatermasuk kanker, tumor dll, silahkan Anda download materinya Klik di sini

Untuk melihat materi terapi lebah untuk menyembuhkan berbagai penyakit mulai dari flu, kolesterol, hipertensi hingga kanker, tumor dll, silahkan Anda download materinya Klik di sini

Untuk melihat materi diet langsing mengurangi berat badan tanpa rasa lapar secara alami, silahkan Anda download materinya Klik di sini

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Kesehatan dan tag , , . Tandai permalink.